Langsung ke konten utama

Postingan

Bagian Lain

  Aku mencoba menjadi yang tak terlihat. Mungkin dengan seperti ini, aku tidak akan terluka. Mengecilkan diri sampai dunia berhenti melihatku sebagai sesuatu yang bisa disakiti. Tetapi... Aku menerima semuanya. Perintah, tekanan, harapan. Belajar untuk menuruti semuanya. Belajar untuk tidak membantah. Belajar mengkerdilkan keinginan sendiri. Apakah hidup seperti ini yang aku inginkan? Aku tidak ingin menjadi kain lap bagi orang lain. Aku tidak ingin mematikan diriku sendiri demi diterima. Aku ingin hidup. Aku ingin hidup. Aku ingin hidup. Tidak apa-apa jika selama ini aku hanya bertahan Tidak apa-apa jika selama ini aku hanya berpura-pura kuat Tidak apa-apa jika selama ini aku terus mencoba bangkit. Meski sudah berkali-kali merasa tak berharga. Hari ini adalah hari dimana aku berhenti bersembunyi. Pelan-pelan saja. Aku tidak diciptakan untuk menjadi bayangan saja. 14 Februari 2026 Catatan:  Disarankan membaca sambil mendengarkan lagu Shindafuri (死んだふり) dari Sakurazaka46.
Postingan terbaru

Gadis kecil

  Dalam bayang-bayang gelap, aku menerka seperti apa bentuk cinta, kasih sayang, lembut nya pelukan, ucapan halus, kata-kata indah yang membangun semangat. Mereka yang berperingai buruk menggeserkan kesalahannya pada anak kecil yang tak tahu alasan ia hadir. Dan tubuh anak kecil itu pun membiru, mengerang kesakitan, dan menangis. Luka-luka di badan dan hati nya membekas. Demikian jiwa ku lenyap dan hilang. Tiap hari hanya ada badan dan nyawa. Mereka saling berhadapan, saling memaki satu sama lain. Kadang begitu sering nya. Aku yang masih kecil mencoba berlindung. Terkurung, tak ada yang menolong. Tak bersuara, tak ada yang mendengar. Bersuara, aku tak dipercaya. Rumah ini tak ramah. Kaca jendela nya yang ditutup kertas. Bagaimana rasanya bebas? Sekarang anak itu sudah berumur dua puluh dua tahun Menceritakan perlahan dengan jari yang gemetar. 04 Oktober 2025

Resonansi

  Lembayung saat matahari terbenam Ku mengenalnya aram temaram Kini tirai malam turun menyelimuti gedung-gedung tinggi Hari yang kujalani begitu sepi Tangan dingin mengusap wajah ini Wajah yang membayangkan kata-kata itu berlari Di antara lampu penghias Aku tampak bias Sengaja tak membawa payung  Biarlah gerimis bersenandung  Di antara mereka dan dari mana Semuanya sekilas saja Orang-orang pun saling berpapasan Tanpa harus berkenalan Tanpa sebuah percakapan Aku pun melangkah bersama air mata Mereka pun, di belahan bumi sana, Beresonansi di udara 19 September 2025 Catatan:  Disarankan membaca sambil mendengarkan lagu “Synchronicity” dari Nogizaka46

Kau Bahagia, ya?

  Aku pernah percaya, dengan keyakinan kalau dunia cuma butuh satu nama untuk bertahan. Sampai seseorang berkata padaku, dalam hidup ini kita akan dipertemukan dengan dua jenis manusia: yang pertama memberi pelajaran, yang kedua menjadi tujuan. Kurasa dirimu termasuk yang pertama. Bukan di hatiku, tapi dalam makna pernyataan itu. Maafkan aku, pernah lancang membayangkan masa depan bersamamu. Padahal rencana itu hanya hidup di kata-kata, tak pernah benar-benar mengajakku ke sana. Tak apa… begitu kataku pada diri sendiri, pura-pura baik-baik saja. Padahal aku terluka. Menangis sepanjang hari, di tempat-tempat yang pernah kita rencanakan untuk didatangi berdua. Kini aku datang sendirian. Di antara sudut-sudut kota, aku merasa jejak kita masih tertinggal. Di bus, di kereta yang kunaiki sekarang, dan di stasiun terdekatmu yang tak pernah kutuju lagi. Bayanganmu menatapku, seakan ikut berjalan bersamaku— atau mungkin aku yang belum benar-benar berani berjalan tanpa menoleh ke belakang. K...

Pencarian

Tak dilihat, mampu kurasakan  Mengalun dalam melodi perlahan Membawa angan jauh ke seberang Melintas antara dulu dan sekarang Detaknya menandakan aku hidup Helaian angin dapat ku hirup Berdirinya aku tanpa penopang  Serasa hampa diriku seorang 20 April 2017

Tak Serupa

Bias wajahmu di bawah sungai itu Tak tampak jelas  buyar rupamu Tak seindah dilihat mata Sebatas tipuan di balik kata Lihatlah, sungai diam Indah, namun menipu Sesekali ingin terpejam Dan terhanyut dalam pilu 11 April 2017

Kita, semangat!

  "Aku tidak menyerah." Kalimat yang biasa dirapalkan semua orang setiap hari— di setiap helaan napas beratnya, dan di setiap sisa semangat yang mereka punya. Hari ini pun, langit berwarna biru di atas sana. Tertiup lembutnya angin yang membelai helaian rambut. Mari berlari, memecah keheningan, dan menabrak standar orang lain yang menjadi pembatas diri. Memberontak dengan semangat, dan mempercayai kekuatan yang dimiliki untuk meraihnya. Teringat perihnya perjuangan. Keringat yang masih bisa berpacu tajam terasa di mata. “Menyerah” adalah pilihan yang salah. Beristirahat bukan berarti tamat. Langkah tertatih bukan berarti berhenti. Ayo, mulai sekali lagi. Catatan:  Disarankan membaca sambil mendengarkan lagu “Stride following a dream” (夢に続くストライド) dari Namidairo no Keshigomu (涙色の消しごむ)