Aku pernah percaya, dengan keyakinan kalau dunia cuma butuh satu nama untuk bertahan. Sampai seseorang berkata padaku, dalam hidup ini kita akan dipertemukan dengan dua jenis manusia: yang pertama memberi pelajaran, yang kedua menjadi tujuan. Kurasa dirimu termasuk yang pertama. Bukan di hatiku, tapi dalam makna pernyataan itu. Maafkan aku, pernah lancang membayangkan masa depan bersamamu. Padahal rencana itu hanya hidup di kata-kata, tak pernah benar-benar mengajakku ke sana. Tak apa… begitu kataku pada diri sendiri, pura-pura baik-baik saja. Padahal aku terluka. Menangis sepanjang hari, di tempat-tempat yang pernah kita rencanakan untuk didatangi berdua. Kini aku datang sendirian. Di antara sudut-sudut kota, aku merasa jejak kita masih tertinggal. Di bus, di kereta yang kunaiki sekarang, dan di stasiun terdekatmu yang tak pernah kutuju lagi. Bayanganmu menatapku, seakan ikut berjalan bersamaku— atau mungkin aku yang belum benar-benar berani berjalan tanpa menoleh ke belakang. Kita pe...
Komentar