Langsung ke konten utama

Kau Bahagia, Ya?



Aku pernah percaya,
dengan keyakinan kalau dunia
cuma butuh satu nama untuk bertahan.


Sampai seseorang berkata padaku,
dalam hidup ini kita akan dipertemukan
dengan dua jenis manusia:
yang pertama memberi pelajaran,
yang kedua menjadi tujuan.


Kurasa dirimu termasuk yang pertama.
Bukan di hatiku,
tapi dalam makna pernyataan itu.


Maafkan aku,
pernah lancang membayangkan
masa depan bersamamu.
Padahal rencana itu
hanya hidup di kata-kata,
tak pernah benar-benar
mengajakku ke sana.


Tak apa…
begitu kataku pada diri sendiri,
pura-pura baik-baik saja.


Padahal aku terluka.
Menangis sepanjang hari,
di tempat-tempat yang pernah kita rencanakan
untuk didatangi berdua.


Kini aku datang sendirian.


Di antara sudut-sudut kota,
aku merasa jejak kita masih tertinggal.
Di bus, di kereta yang kunaiki sekarang,
dan di stasiun terdekatmu
yang tak pernah kutuju lagi.


Bayanganmu menatapku,
seakan ikut berjalan bersamaku—
atau mungkin aku yang belum benar-benar berani
berjalan tanpa menoleh ke belakang.


Kita pernah berdiri di depan akuarium,
menatap ikan-ikan menari.
Kau mengajakku membuat ichinogami,
katanya aku lucu seperti anak kecil,
merekamku seraya kita tertawa bersama.
Seolah dengan begitu
aku bisa tetap tinggal di waktu itu.


Aku bukan milikmu lagi.
Aku bukan lagi bagian
dari hidupmu yang sekarang.
Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri,
tidak semua cinta harus abadi
untuk bisa berarti.


25 Desember 2025




Catatan:
Disarankan membaca sambil mendengarkan lagu「運命の人 (The One)」— ユイカ (Yuika)

Komentar

Penyu gurun mengatakan…
Semangat ya kak^^
Kaewords mengatakan…
Terima kasih banyak untuk semangat nyaaa🌷

Postingan populer dari blog ini

Trapezium dan cerita kecil bersama JNE.

Beberapa buku tidak hanya dibaca, tetapi dirayakan. Ada tokoh yang terasa seperti duplikat diri. Ada halaman-halaman yang duduk manis untuk dibaca. Ada cerita yang menunggu untuk ditamatkan. Hari itu aku menanti buku novel dari Jepang yang sudah lama kucari dan masuk daftar novel Jepang impianku. Novel ini adalah karya Takayama Kazumi, yang mendapat adaptasi film berjudul Trapezium , sama seperti nama novelnya. Takayama Kazumi sendiri adalah mantan member dari grup idol Jepang Nogizaka46. Diriku yang sedang menatap layar ponsel di laman " Dikirim " mendapati bahwa jasa kirim yang akan membawa buku novel Jepangku sampai ke rumah adalah JNE—nama yang sudah akrab di telinga. JNE, pasti aman dan cepat. Tak disangka, masuk satu pesan dari kurir JNE: "Mohon maaf kirimannya kemalaman. Paket saya amanin, besok pagi langsung saya antar." JNE bukan sekadar mengantar paket, tetapi juga memastikan paket benar-benar sampai dengan baik. Karena pengiriman bukan hanya soal...

Kita, semangat!

 "Aku tidak menyerah." Kalimat yang biasa dirapalkan semua orang setiap hari— di setiap helaan napas beratnya, dan di setiap sisa semangat yang mereka punya. Hari ini pun, langit berwarna biru di atas sana. Tertiup lembutnya angin yang membelai helaian rambut. Mari berlari, memecah keheningan, dan menabrak standar orang lain yang menjadi pembatas diri. Memberontak dengan semangat, dan mempercayai kekuatan yang dimiliki untuk meraihnya. Teringat perihnya perjuangan. Keringat yang masih bisa berpacu tajam terasa di mata. “Menyerah” adalah pilihan yang salah. Beristirahat bukan berarti tamat. Langkah tertatih bukan berarti berhenti. Ayo, mulai sekali lagi. Catatan:  Disarankan membaca sambil mendengarkan lagu “Stride following a dream” (夢に続くストライド) dari Namidairo no Keshigomu (涙色の消しごむ)