Langsung ke konten utama

Resonansi


Lembayung saat matahari terbenam

Ku mengenalnya aram temaram

Kini tirai malam turun menyelimuti gedung-gedung tinggi

Hari yang kujalani begitu sepi


Tangan dingin mengusap wajah ini

Wajah yang membayangkan kata-kata itu berlari

Di antara lampu penghias

Aku tampak bias


Sengaja tak membawa payung 

Biarlah gerimis bersenandung 

Di antara mereka dan dari mana

Semuanya sekilas saja


Orang-orang pun saling berpapasan

Tanpa harus berkenalan

Tanpa sebuah percakapan


Aku pun melangkah bersama air mata

Mereka pun, di belahan bumi sana,

Beresonansi di udara


19 September 2025


Catatan: 

Disarankan membaca sambil mendengarkan lagu “Synchronicity” dari Nogizaka46











Komentar

Pan Liyuu mengatakan…
PEAK 🙌
Terimakasih kak tulisannya ✨
Anonim mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Penyu gurun mengatakan…
Inilah yang kurasakan saat ini

Postingan populer dari blog ini

Trapezium dan cerita kecil bersama JNE.

Beberapa buku tidak hanya dibaca, tetapi dirayakan. Ada tokoh yang terasa seperti duplikat diri. Ada halaman-halaman yang duduk manis untuk dibaca. Ada cerita yang menunggu untuk ditamatkan. Hari itu aku menanti buku novel dari Jepang yang sudah lama kucari dan masuk daftar novel Jepang impianku. Novel ini adalah karya Takayama Kazumi, yang mendapat adaptasi film berjudul Trapezium , sama seperti nama novelnya. Takayama Kazumi sendiri adalah mantan member dari grup idol Jepang Nogizaka46. Diriku yang sedang menatap layar ponsel di laman " Dikirim " mendapati bahwa jasa kirim yang akan membawa buku novel Jepangku sampai ke rumah adalah JNE—nama yang sudah akrab di telinga. JNE, pasti aman dan cepat. Tak disangka, masuk satu pesan dari kurir JNE: "Mohon maaf kirimannya kemalaman. Paket saya amanin, besok pagi langsung saya antar." JNE bukan sekadar mengantar paket, tetapi juga memastikan paket benar-benar sampai dengan baik. Karena pengiriman bukan hanya soal...

Kau Bahagia, Ya?

Aku pernah percaya, dengan keyakinan kalau dunia cuma butuh satu nama untuk bertahan. Sampai seseorang berkata padaku, dalam hidup ini kita akan dipertemukan dengan dua jenis manusia: yang pertama memberi pelajaran, yang kedua menjadi tujuan. Kurasa dirimu termasuk yang pertama. Bukan di hatiku, tapi dalam makna pernyataan itu. Maafkan aku, pernah lancang membayangkan masa depan bersamamu. Padahal rencana itu hanya hidup di kata-kata, tak pernah benar-benar mengajakku ke sana. Tak apa… begitu kataku pada diri sendiri, pura-pura baik-baik saja. Padahal aku terluka. Menangis sepanjang hari, di tempat-tempat yang pernah kita rencanakan untuk didatangi berdua. Kini aku datang sendirian. Di antara sudut-sudut kota, aku merasa jejak kita masih tertinggal. Di bus, di kereta yang kunaiki sekarang, dan di stasiun terdekatmu yang tak pernah kutuju lagi. Bayanganmu menatapku, seakan ikut berjalan bersamaku— atau mungkin aku yang belum benar-benar berani berjalan tanpa menoleh ke belakang. Kita pe...

Kita, semangat!

 "Aku tidak menyerah." Kalimat yang biasa dirapalkan semua orang setiap hari— di setiap helaan napas beratnya, dan di setiap sisa semangat yang mereka punya. Hari ini pun, langit berwarna biru di atas sana. Tertiup lembutnya angin yang membelai helaian rambut. Mari berlari, memecah keheningan, dan menabrak standar orang lain yang menjadi pembatas diri. Memberontak dengan semangat, dan mempercayai kekuatan yang dimiliki untuk meraihnya. Teringat perihnya perjuangan. Keringat yang masih bisa berpacu tajam terasa di mata. “Menyerah” adalah pilihan yang salah. Beristirahat bukan berarti tamat. Langkah tertatih bukan berarti berhenti. Ayo, mulai sekali lagi. Catatan:  Disarankan membaca sambil mendengarkan lagu “Stride following a dream” (夢に続くストライド) dari Namidairo no Keshigomu (涙色の消しごむ)