Langsung ke konten utama

Gadis kecil


Dalam bayang-bayang gelap, aku menerka seperti apa bentuk cinta, kasih sayang, lembut nya pelukan, ucapan halus, kata-kata indah yang membangun semangat.

Mereka yang berperingai buruk menggeserkan kesalahannya pada anak kecil yang tak tahu alasan ia hadir.
Dan tubuh anak kecil itu pun membiru, mengerang kesakitan, dan menangis.

Luka-luka di badan dan hati nya membekas.
Demikian jiwa ku lenyap dan hilang.
Tiap hari hanya ada badan dan nyawa.

Mereka saling berhadapan, saling memaki satu sama lain.
Kadang begitu sering nya.
Aku yang masih kecil mencoba berlindung.

Terkurung, tak ada yang menolong.
Tak bersuara, tak ada yang mendengar.
Bersuara, aku tak dipercaya.

Rumah ini tak ramah.
Kaca jendela nya yang ditutup kertas.
Bagaimana rasanya bebas?

Sekarang anak itu sudah berumur dua puluh dua tahun
Menceritakan perlahan dengan jari yang gemetar.


04 Oktober 2025


Komentar

Pan Liyuu mengatakan…
Semangat ya kak 🥺✨
Penyu gurun mengatakan…
Semangat ya gadis kecil
Kaewords mengatakan…
terima kasih ya..
Kaewords mengatakan…
terima kasih...

Postingan populer dari blog ini

Trapezium dan cerita kecil bersama JNE.

Beberapa buku tidak hanya dibaca, tetapi dirayakan. Ada tokoh yang terasa seperti duplikat diri. Ada halaman-halaman yang duduk manis untuk dibaca. Ada cerita yang menunggu untuk ditamatkan. Hari itu aku menanti buku novel dari Jepang yang sudah lama kucari dan masuk daftar novel Jepang impianku. Novel ini adalah karya Takayama Kazumi, yang mendapat adaptasi film berjudul Trapezium , sama seperti nama novelnya. Takayama Kazumi sendiri adalah mantan member dari grup idol Jepang Nogizaka46. Diriku yang sedang menatap layar ponsel di laman " Dikirim " mendapati bahwa jasa kirim yang akan membawa buku novel Jepangku sampai ke rumah adalah JNE—nama yang sudah akrab di telinga. JNE, pasti aman dan cepat. Tak disangka, masuk satu pesan dari kurir JNE: "Mohon maaf kirimannya kemalaman. Paket saya amanin, besok pagi langsung saya antar." JNE bukan sekadar mengantar paket, tetapi juga memastikan paket benar-benar sampai dengan baik. Karena pengiriman bukan hanya soal...

Kau Bahagia, Ya?

Aku pernah percaya, dengan keyakinan kalau dunia cuma butuh satu nama untuk bertahan. Sampai seseorang berkata padaku, dalam hidup ini kita akan dipertemukan dengan dua jenis manusia: yang pertama memberi pelajaran, yang kedua menjadi tujuan. Kurasa dirimu termasuk yang pertama. Bukan di hatiku, tapi dalam makna pernyataan itu. Maafkan aku, pernah lancang membayangkan masa depan bersamamu. Padahal rencana itu hanya hidup di kata-kata, tak pernah benar-benar mengajakku ke sana. Tak apa… begitu kataku pada diri sendiri, pura-pura baik-baik saja. Padahal aku terluka. Menangis sepanjang hari, di tempat-tempat yang pernah kita rencanakan untuk didatangi berdua. Kini aku datang sendirian. Di antara sudut-sudut kota, aku merasa jejak kita masih tertinggal. Di bus, di kereta yang kunaiki sekarang, dan di stasiun terdekatmu yang tak pernah kutuju lagi. Bayanganmu menatapku, seakan ikut berjalan bersamaku— atau mungkin aku yang belum benar-benar berani berjalan tanpa menoleh ke belakang. Kita pe...

Kita, semangat!

 "Aku tidak menyerah." Kalimat yang biasa dirapalkan semua orang setiap hari— di setiap helaan napas beratnya, dan di setiap sisa semangat yang mereka punya. Hari ini pun, langit berwarna biru di atas sana. Tertiup lembutnya angin yang membelai helaian rambut. Mari berlari, memecah keheningan, dan menabrak standar orang lain yang menjadi pembatas diri. Memberontak dengan semangat, dan mempercayai kekuatan yang dimiliki untuk meraihnya. Teringat perihnya perjuangan. Keringat yang masih bisa berpacu tajam terasa di mata. “Menyerah” adalah pilihan yang salah. Beristirahat bukan berarti tamat. Langkah tertatih bukan berarti berhenti. Ayo, mulai sekali lagi. Catatan:  Disarankan membaca sambil mendengarkan lagu “Stride following a dream” (夢に続くストライド) dari Namidairo no Keshigomu (涙色の消しごむ)